MENJADIKAN PEKARANGAN RUMAH, BERNILAI RUPIAH
(BERTANAM JAHE, GAJIAN TIAP BULAN)
Menjadi
petani adalah pilihan, oleh karenanya ketika sudah memutuskan dan memilih untuk
menjadi petani maka harus ditekuni, tidak cukup kerja keras, tetapi harus
disertai dengan ilmu dan kepasrahan pada Allah SWT. kalau selama ini, petani
sebagai sebuah profesi, hanya dipandang sebelah mata maka anggapan itu harus kita buang
jauh-jauh. Karena bertani memiliki prospek yang sangat bagus, asalkan menguasai
ilmu, baik ilmu budidaya dan pola tanam, dan ilmu pemasarannya. Salah satu
komoditas yang memiliki prospek bagus, mampu menambah income/penghasilan, dapat
memanfaatkan pekarangan rumah (irit tempat), dapat menjadi usaha sampingan, dan
pemasaran mudah adalah bertanam jahe, salah satunya jahe gajah. Jahe ini masuk
dalam komoditas pabrikan dan ekspor, dengan permintaan yang cukup tinggi,
rata-rata kebutuhan per hari adalah 28 ton.
Bagaimana agar
budidaya jahe ini dapat diatur sehingga tidak panen secara bersamaan? Bagaimana
bertanam jahe, agar tidak terlalu berat di modal? Bagaimana bertanam jahe
sehingga dapat irit tempat? Dan bagaimana agar dapat panen tiap bulan, alias
gajian tiap bulan, layaknya karyawan atau PNS?
Caranya adalah dengan
pola tanam di polibag dengan memanfaatkan lingkungan atau pekarangan rumah atau
kebun disekitar rumah. Dengan pola seperti ini, kita mampu menanam jahe setiap bulan,
tanpa tergantung dengan musim. Selain itu dengan pola ini, kita dapat
memanfaatkan lingkungan yang ada, semisal di teras rumah yang kemudian di buat
rak-rak (pola tanam bersusun). Dengan pola seperti ini pula, modal yang
dibutuhkan relative terjangkau sesuai kemampuan masing-masing, asalkan memiliki
niat kuat, dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk digunakan sebagai modal
investasi. Dan yang penting, dengan pola seperti ini kita akan berpenghasilan
alias gajian tiap bulan layaknya karyawan atau PNS.
A.
Cara Tanam
Siapkan tanah untuk
mengisi bibit jahe, usahakan tanah yang gembur atau berpasir sehingga
pertumbuhan umbi jahenya dapat maksimal. Jika tidak menemukan tanah gembur,
maka dapat dicampur tanah dengan bokashi atau pupuk kompos atau limbah jamur
atau pupuk kandang jadi atau arang sekam. Setelah siap, maka isikan tanah
tersebut ke dalam polibag/plastic bekas ukuran sedang atau besar, isikan tanah
setinggi 15-20 cm. Tanamlah bibit jahe yang sudah disiapkan, seluruh umbi atau
akar harus terurug/tertutup tanah, sehingga yang tampak hanya tunas bibit
tersebut dan taburi kapur dolomite secukupnya. Setelah itu siramlah dengan air
hingga basah, dan usahakan kondisi polibag selalu basah (disiram setiap hari),
sehingga bibit tidak kering. Pada umur 2 atau 3 hari kocorilah dengan pupuk
cair, satu polibag satu gelas pupuk cair yang sudah diencerkan. (pengenceran: 1
gelas pupuk cair dicampur 10 liter air)
Pada tahap ini, maka
kebutuhan modalnya adalah:
Biaya bibit jahe gajah
siap tanam @ Rp 2.000
Polibag/plastic bekas
ukuran sedang/besar @ Rp 2.000
Pupuk cair 1 liter
untuk kocoran sampai panen (populasi 50 polibag) Rp 40.000
Kapur dolomite 1 zak
untuk populasi 50 polibag Rp 8.000
B.
Perawatan
Perawatan dilakukan
dengan pemupukan pupuk cair (kocoran) dan pangkas urug ketika tumbuh tunas.
Pemupukan dengan memberikan pupuk cair yang sudah diencerkan, yaitu pada umur
15 hari setelah tanam, 30 hari, 45 hari, 60 hari dan seterusnya (jeda/interval
pengocoran setiap 15 hari), sampai dengan jahe umur 5 bulan. Pangkas urug
dilakukan ketika muncul tunas serempak, dengan memangkas atau memotong tunas
yang tumbuh tersebut, kemudian urug dengan tanah setinggi 15-20 cm. pangkas
tunas ini biasanya dilakukan pada umur 1,5 atau 2 bulan, dan selanjutnya
interval 1,5 atau 2 bulan berikutnya demikian seterusnya hingga panen. Kecuali
itu, perawatan lain yang perlu dilakukan adalah mencabut gulma/ rumput
pengganggu yang tumbuh disekitar jahe.
C.
Panen dan Pasca Panen
Panen dilakukan
apabila jahe telah berumur 9-10 bulan untuk kebutuhan konsumsi (untuk pabrik
ataupun ekspor). Umur ini dihitung sejak hari tanam, jika bibit jahe siap tanam
(sudah bertunas), tetapi jika belum (bibit belum bertunas waktu menanam), maka
umur layak panen dihitung sejak tumbuh
tunas. Oleh karenanya sangat penting untuk mencatat hari/tanggal jahe mulai
bertunas tersebut, karena akan mempengaruhi umur jahe dan kualitas jahe. Sampai
tahap ini, maka pekerjaan budidaya jahe selesai, dan panenan dapat langsung
dijual. Asset yang dimiliki adalah polibag dan tanah yang dapat digunakan lagi
(modal tanam berikutnya lebih kecil)
D. Gajian
Tiap Bulan
Dari perhitungan di
atas, maka modal per polibag sekitar Rp 5.000 sehingga kita dapat menyesuaikan
modal tiap bulan. Misalnya per bulan kita alokasikan modal Rp 500.000, maka
kita dapat menanam sejumlah 100 polibag. Jika pekarangan tidak ada, maka dapat
memanfaatkan teras rumah, atau pinggiran rumah, atau bahkan dibuatkan rak-rakan
(pola tanam bersusun).
Agar dapat gajian per
bulan, maka kita harus menanam jahe tiap bulan. Semisal kita sisihkan uang Rp 500.000
per bulan, sehingga tiap bulan kita mampu menanam sejumlah 100 polibag.
Contoh misal bulan Januari minggu awal kita tanam 100 polibag/karung jahe, maka bulan Februari di minggu awal berikutnya kita tanam lagi 100 polibag/karung, begitu juga bulan Maret dan bulan-bulan berikutnya. Karena umur jahe siap panen adalah berumur 10 bulan (jika dengan bibit siap tanam), maka dibulan Oktober kita memanen jahe yang ditanam pada bulan Januari, Nopember panen jahe yang ditanam bulan Februari, begitu seterusnya, sehingga kedepan kita akan mempunyai penghasilan tiap bulannya dari hasil bertani.
Untuk skema tanam dan waktu panen bisa dilihat dari tabel di bawah ini (sebagai ilustrasi dengan modal Rp 500.000 tiap bulan)
Contoh misal bulan Januari minggu awal kita tanam 100 polibag/karung jahe, maka bulan Februari di minggu awal berikutnya kita tanam lagi 100 polibag/karung, begitu juga bulan Maret dan bulan-bulan berikutnya. Karena umur jahe siap panen adalah berumur 10 bulan (jika dengan bibit siap tanam), maka dibulan Oktober kita memanen jahe yang ditanam pada bulan Januari, Nopember panen jahe yang ditanam bulan Februari, begitu seterusnya, sehingga kedepan kita akan mempunyai penghasilan tiap bulannya dari hasil bertani.
Untuk skema tanam dan waktu panen bisa dilihat dari tabel di bawah ini (sebagai ilustrasi dengan modal Rp 500.000 tiap bulan)
|
Waktu Tanam
|
Jumlah Tanam
|
Waktu Panen
|
|
January
|
100 karung
|
Oktober
|
|
February
|
100 karung
|
November
|
|
Maret
|
100 karung
|
Desember
|
|
April
|
100 karung
|
January
|
|
Mei
|
100 karung
|
February
|
|
Juny
|
100 karung
|
Maret
|
|
July
|
100 karung
|
April
|
|
Agustus
|
100 karung
|
Mey
|
|
September
|
100 karung
|
Juny
|
|
Oktober
|
100 karung
|
July
|
|
November
|
100 karung
|
Agustus
|
|
Desember
|
100 karung
|
September
|
E. Analisis Usaha
Perhitungan
usaha dengan pola tersebut, yaitu tiap bulan dengan modal Rp 500.000, kita
mampu menanam 100 polibag. Asumsi hasil tiap polibag adalah 2-5 kg. Harga jahe
(untuk bulan April ini) adalah Rp 9.000/kg jahe gajah. Maka dari modal Rp 500.000
tersebut kita akan memperoleh hasil minimal panen rata-rata 2 kg X 100 polibag
X @ Rp 9.000 = Rp 1.800.000. Keuntungan: Rp 1.800.000 – Rp 500.000 = Rp 1.300.000 (masih memiliki
asset polibag dan tanah yang dapat dimanfaatkan kembali). Dengan demikian,
berarti kita bisa gajian tiap bulan Rp 1.300.000 dengan modal hanya Rp 500.000/bulan
dan masih dapat melakukan pekerjaan rutin kita sehari-hari.
F. Kerjasama
Kerjasama
yang ditawarkan adalah kerjasama dalam bentuk pemberdayaan. Artinya ketika anda
berminat, maka kami siap mendampingi anda dalam budidaya jahe, sekaligus kami
sediakan bahan yang dibutuhkan mulai dari bibit, pupuk, polibag, dan dolomite, panen,
hingga pasca panen/pemasaran (hasil panen kami beli). Untuk daerah yang jauh,
ditambah biaya pengiriman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar