INVESTASI
DENGAN BERTANAM SINGKONG
Salah satu investasi yang memiliki peluang yang sangat terbuka
lebar adalah dengan bertanam singkong. Karena singkong merupakan tanaman yang
mudah dibudidayakan, modal murah, resiko kecil, hasilnya maksimal jika menggunakan
pola intensif dan teknologi, serta pemasaran yang sangat mudah mengingat
kebutuhan/permintaan singkong sangat tinggi, baik untuk kebutuhan home industry
maupun pabrikan.
Budidaya Singkong Sebenarya Sangat Mudah Dan Saya Yakin Seluruh
Petani Sudah Tahu Cara Menanamnya ! Namun Bagi Sebagian Yang Belum Tahu,
Berikut Adalah Cara Tanam, RAB dan analisis usaha singkong pada lahan seluas
satu hektar, dengan jarak tanam 1 × 1,25 meter, sehingga per hektar mampu
ditanami 8.000 batang singkong. Harga-harga dan angka-angka adalah nyata dan
berlaku pada Maret 2015 berdasarkan pengalaman petani yang sudah sukses budidaya
singkong. Harga jual Rp.1.000/kg adalah harga nett, ongkos panen dan transport
sudah ditanggung pembeli.
A. Pengolahan Lahan :
1. Apabila Di Lahan Yang
Mau Kita Tanami Banyak Di Tumbuhi Rumput - Rumputan , Bisa Kita Semprot Dulu
Dengan Herbisida Roundup 100 cc / Tangki 14 Liter Untuk Membasmi Rumput Sampai
Ke Akar Akarnya.
Biaya Per Ha :
5 Botol Roundup x
Rp.80.000 = Rp. 400.000,-
3 Orang Tenaga Kerja
x Rp.60.000 = Rp.180.000,-
2. Tunggu Sampai 5 Hari
Biar Rumputnya Mati Terlebih Dahulu. Selanjutnya pengolahan lahan dapat di
lanjutkan dengan membuat guludan / bedengan memanjang dengan cara di cangkul
atau menggunakan traktor besar, Jarak antar titik tempat tanam pohon antar bedengan
adalah 1,25 meter dengan ketinggian 30 cm.
Biaya Per Ha :
Biaya pengolahan
dengan traktor kurang lebih 3.000.000/Ha
Biaya pembuatan bedengan dan pemasangan
plastic mulsa Rp 3.000.000/ Ha
Biaya pembelian plastic mulsa 160 kg x
Rp. 35.000 = Rp. 5.600.000
B. Penanaman
1.
Rendam
bibit singkong yang sudah disiapkan, yaitu bibit stek pohon singkong yang
berumur 8-12 bulan, dengan diameter batang sekitar 2-4 cm dn panjang 15 cm,
rendam dalam larutan zat perangsang tumbuh (PT) selama kurang lebih 24 jam.
Pupuk atau zat perangsang tumbuh ini akan merangsang bibit sehingga ketika
ditanam, bibit singkong ini sudah benar-benar siap dan langsung akan tumbuh
akar sehingga proses adaptasi dan pertumbuhannya akan semakin cepat dengan jumlah
akar maksimal. Dengan zat PT ini, tanaman mampu tumbuh secara maksimal dalam
jangka waktu yang relative singkat, selain itu, dengan banyaknya jumlah akar
yang tumbuh akan mempercepat tumbuhnya tunas atau calon daun sehingga
mempercepat proses memasak/fotosintesis yang kemudian akan mempercepat
pertumbuhan singkong. Dengan demikian singkong yang dihasilkan akan besar
dengan jumlah yang banyak. Dari porses tersebut, maka dapat diharapkan bahwa
hasil/panen dapat berlipat dengan asumsi panen sekitar 10 – 25 kg per pohon.
2.
Setelah
di rendam bibit singkong sudah bisa langsung di tanam di atas bedengan yg telah di buat,
dengan jarak tanam baris dalam bedengan adalah 1 meter, sedangkan jarak tanaman
antar bedengan adalah 1,25 meter, sehingga populasi tanaman per Ha adalah 8.000
pohon untuk lahan datar dan rata. Batang yang tertanamn minimal 3 mata tunas tertanam,
atau kurang lebih 5-7 cm tertanam dalam tanah dengan posisi miring 45 derajat. Biaya
Per Ha :
Biaya pembelian bibit 8.000 bibit x
Rp. 500 = Rp 4.000.000
4 Orang Tenaga Kerja x Rp.60.000 = Rp.240.000,-
Pupuk cair perangsang tumbuh 2 lt x Rp.
40.000 = Rp 80.000
3.
Setelah
selesai penanaman, maka ditaburi pupuk kompos untuk memacu/mempercepat
tumbuhnya akar. Biaya per Ha:
Pupuk
kompos ¼ x 8.000 x @ Rp 2.000 = Rp.
4.000.000
4
orang tenaga kerja x Rp 60.000 =
Rp. 240.000
C. Perawatan Dan
Pemupukan
Setelah bibit
singkong ditanam, maka perawatan hanya dilakukan dengan memberikan pupuk cair
tiga kali, yaitu pemumukan pada umur 1 minggu, umur 1 bulan, dan umur 3 bulan,
selebihnya tidak perlu melakukan perawatan apapun, hanya menunggu panen pada
umur 8-9 bulan. Karena menggunakan plastic mulsa sehingga tidak perlu melakukan
pembasmian gulma atau rumput. Biaya Per Ha :
30 liter pupuk cair 30 x Rp 40.000 = Rp.1.200.000,-
3 x 4 Orang Tenaga
Kerja x Rp.60.000 = Rp. 720.000,-
|
Dengan pola tanam dan pupuk yang tepat mampu meningkatkan
panen singkong, kisaran 10 – 25 Kg/pohon
|
D.
Kebutuhan modal
Dari paparan cara
penanaman mulai dari persiapan lahan, penanaman hingga perawatan diatas, maka
kebutuhan modal untuk 1 Ha adalah sebagai berikut:
1. Sewa lahan (Jika
sewa) =
Rp. 8.000.000
2. Pengolahan lahan:
a. Pembersihan lahan = Rp
580.000
b. Pengolahan dengan
traktor =
Rp. 3.000.000
c. Pembuatan bedengan
dan pemasangan mulsa = Rp. 3.000.000
d. Biaya plastic mulsa = Rp. 5.600.000
3. Penanaman:
a. Bibit = Rp. 4.000.000
b. Perangsang tumbuh
(PT) =
Rp. 80.000
c. HOK Tanam =
Rp. 240.000
d. Pupuk Kompos =
Rp. 4.000.000
e. HOK Tabur Pupuk
kompos =
Rp. 240.000
4. Perawatan:
a. Pupuk cair =
Rp. 1.200.000
b. HOK tabor pupuk
cair =
Rp. 720.000
Jumlah =
Rp. 30.660.000
E. Panen dan Hasil:
Kebutuhan
akan singkong sangat tinggi, mengingat saat ini singkong banyak dimanfaatkan
untuk produksi camilan atau makanan ringan, seperti yang diproduksi skala
industry rumah tangga (Home Industri) yang memproduksi criping singkong, balok,
lentheng, criping entho, klenting, dll. Sedangkan untuk kebutuhan industry
(pabrikan), singkong digunakan untuk bahan baku makanan ringan seperti Qtela
atau criping singkong, yang diambil tepung tapioca kemudian dimanfaatkan juga
untuk bahan baku makanan ringan, atau dimanfaatkan untuk bahan baku energy
bio-etanol. Berdasarkan data dan analisis kebutuhan singkong, di daerah
Temanggung saja permintaan pengepul singkong yang menjadi pemasok home
industry, per hari rata-rata 5-10 ton, pengepul singkong yang menjadi pemasok singkong
untuk produksi home industry di daerah Sumowono per hari rata-rata 15-20 ton,
daerah Semarang rata-rata 30 ton, daerah Pati rata-rata 30 ton. Selain itu,
permintaan singkong untuk kebutuhan pabrikan, rata-rata per hari adalah 50-100
ton, belum lagi permintaan untuk ekspor keluar negeri. (data bersumber dari
wawancara penulis dengan beberapa pembeli/pengepul singkong di beberapa
daerah).
Dengan
demikian, prospek pemasaran singkong sangatlah luas dan mudah mengingat
permintaan yang sangat tinggi tersebut,sementara saat ini singkong sangat
jarang yang dibudidayakan dalam jumlah banyak, dengan kata lain budidaya
singkong sangat lambat tidak sebanding dengan permintaan, oleh karenanya dapat
diprediksi bahwa harga singkong stabil, bahkan cenderung naik seiring dengan
permintaan yang semakin banyak.
Dari
perhitungan hasil singkong, dengan asumsi hasil rata-rata per batang minimal
adalah 10 kg, tanaman yang dipanen sekitar 95%, harga jual singkong (harga
bersih, pembeli memanen sendiri dengan transportnya) adalah Rp 1.000 masa panen
9 bulan, maka diperoleh hasil dan keuntungan:
8.000
x 95% x 10 kg x @ Rp 1.000 =
Rp 76.000.000
Keuntungan
= 76.000.000 – 30.660.000
= Rp. 45.340.000
Dengan
hasil tersebut, seharusnya tidak ada lagi petani miskin di Negara yang sangat
subur dan kaya ini. Tidak ada lagi petani yang akan membeli motor atau mobil
dengan menjual tanahnya, tidak ada lagi petani yang terlilit hutang dan
menggadaikan asetnya untuk menyekolahkan anaknya. Kita tentu berharap bahwa
petani akan sejahtera, sehingga kaum muda banyak yang berminat menjadi petani,
tidak lagi berpikir mencari pekerjaan dan akhirnya menjadi karyawan, sedangkan
asset warisan orang tuanya dijual kepada orang lain. Dengan teknologi, disertai
kerja keras dan doa (ibadah dengan sungguh-sungguh) Insya Allah tidak ada yang
tidak mungkin.
F.
Kerjasama
Pola
kerjasama yang ditawarkan adalah bagi hasil murni, setelah dikurangi modal
untuk dikembalikan pada pemilik modal (investor). Mekanisme kerjasamanya adalah
pihak pertama sebagai penyedia modal (investor) menyediakan modal dengan jumlah
minimal 1 hektar dan maksimal 10 hektar. Modal tersebut dikelola oleh pihak
kedua (pengelola modal) yang berkewajiban mengelola modal melalui budidaya
singkong dengan manajemen dan analisis sebagaimana dipaparkan diatas.
Apabila
pihak pertama dan kedua telah sepakat maka masing-masing membuat perjanjian
kerjasama (Bila dibutuhkan pengukuhan perjanjian kerjasama melalui akta
notaries, biaya yang ditimbulkan dibebankan pada penyedia modal). Kemudian pihak
pertama memberikan modal sebaimana yang dikehendaki (bisa 1 hektar, 5 hiktar
atau 10 hektar) secara penuh di depan karena seluruh modal dibelanjakan di depan
mengingat budidaya singkong ini membutuhkan biaya dan perawatan pada 1 bulan
pertama sampai dengan 3 bulan berikutnya, selebihnya hanya menunggu
hasil/panen. Setelah panen, maka pihak kedua akan menyampaikan hasil panennya
kepada pihak pertama, selanjutnya pembagian hasil berdasarkan prosentasi hasil
bersih setelah dikurangi modal untuk dikembalikan kepada pihak pertama, dengan
prosentasi bagi hasil 60% pihak pertama dan 40% pihak kedua selaku pengelola
modal.
Selain
kerjasama dengan bagi hasil, bagi yang berminat budidaya singkong dan ingin membudidayakan
sendiri, maka kami juga menyediakan jasa konsultan dan pendampingan mulai dari
teknik dan cara budidayanya hingga panen dan pasca panen/pemasarannya. Biaya
tersebut gratis selama daerah budiddayanya masih terjangkau. Adapun pupuk cair,
PT, dan pupuk kompos (pupuk dan teknik ini dapat diterapkan pada semua tanaman
termasuk jahe, bawang merah tanaman sayuran dll), termasuk bibit singkong (jika
belum ada- dan untuk varietas bibit tertentu, semisal singkong gajah dan
manggu, harganya lebih mahal, singkong gajah sekitar Rp 1.500-2.000/stek), yang
kesemuanya masuk RAB sebagaimana di atas, kami juga siap memasok, biaya
tersebut belum termasuk biaya kirim. (biaya kirim menyesuaikan dengan tariff
ekspedisi barang, termasuk di daerah luar pulau Jawa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar